PLUTO, ERIS DAN SABUK KUIPER
Sabuk Kuiper adalah kawasan yang berada di luar orbit
planet Neptunus yang belum banyak diamati. Kawasan itu meliputi rentang tatasurya
mulai dari orbit planet Neptunus pada jarak 30 sampai 50 SA dari matahari.
Semua benda-benda langit di dalam Sabuk Kuiper bersama anggota lain yang sudah
tersebar keluar zona tersebut, secara kolektif disebut benda-benda Trans
Neptunus Objects atau TNO.
Ada pengaruh medan gravitasi Neptunus terhadap
penyebaran benda-benda di Sabuk Kuiper. Pada jarak 48 SA, orbit benda-benda
akan tepat dua kali periode Neptunus, dikenal resonansi orbit 2:1. Di dalam
rentang perbandingan periode orbit itu ada kesetimbangan resonansi tempuhan.
Artinya untuk benda-benda yang mengorbit dengan periode lebih panjang
mengelilingi matahari akan cenderung mengorbit ke periode resonansi 2:1
terhadap Neptunus. Maka populasi benda-benda pada jarak 48 SA akan menurun
secara tiba-tiba semakin jauh dari batas jarak itu. Efek pasang dari Neptunus
mempercepat orbit benda-benda yang jauh sehingga mereka cenderung mendekat ke
matahari. Masih diperlukan banyak pengamatan di masa depan untuk menentukan
kebenaran pemahaman tersebut.
Pada tahun 1951, astronom Belanda, Gerald Kuiper
menelusuri pendapat-pendapat beberapa astronom, Leonard dan Edgeworth yang
masing-masing pada tahun 1930 dan 1943 juga sampai pada penyimpulan akan
keberadaan sebuah kawasan hipotesis berupa semacam sabuk asteroid di luar orbit
Neptunus. Kuiper bekerja lebih jauh dan membuat hipotesa berdasarkan pengamatan
mengenai orbit komet-komet yang ber-elips lonjong. Sudah lama diamati
komet-komet berperiode pendek, kurang dari 200 tahun seperti Halley yang kini
pecah, mengorbit dalam elips sangat lonjong dan selalu berupa pendatang baru.
Dapat dikatakan hampir satu atau dua komet dalam sebulan, bumi kedatangan komet
periode pendek. Kuiper mengatakan terdapat sebuah sumber komet di kawasan dekat
tatasurya yang tidak habis di luar orbit Neptunus.
Sejak 1992 sudah lebih dari 800 TNO ditemukan di Sabuk
Kuiper. Yang terbesar daripadanya adalah Pluto, Charon dan Eris. Pada tahun
2002 ditemukan Quaoar yang separuh Pluto bahkan lebih besar dari asteroid Cers.
Setahun kemudian ditemukan Sedna, planet kerdil berwarna merah, bergaris tengah
di antara Pluto dan Qoaoar. Sebelumnya sudah ditemukan Ixion (di tahun 2001),
Varuna (di tahun 2000), Santa dan 2005FY9 (di tahun 2005). Para ilmuwan mulai
mempertanyakan apa sesungguhnya sebuah “planet” itu, bagaimanakah definisi atau
batasannya? Maka pada tanggal 24 Agustus 2006, keluarlah resolusi 5A oleh
International Astronomical Union mengenai definisi sebuah “planet” pertama
kalinya. Jika istilah “Planet” selama ini hanyalah bermakna cultural Yunani, yang
berarti “Pengembara” untuk objek langit bersinar yang berpindah-pindah, kini
penemuan-penemuan di tahun-tahun terakhir membutuhkan pemikiran kembali akan
keperluan sebuah definisi baru mengenai “Planet” yang secara fisikal akan unik.
Resolusi 5A IAU tersebut berbunyi sebagai berikut:
Resolusi 5A: Untuk semua benda-benda tatasurya kecuali satelit-satelit
1. Planet adalah sebuah benda langit
yang:
a. Mengelilingi matahari
b. Memiliki massa yang cukup untuk
menghasilkan gaya gravitasi diri, mengimbangi gaya benda tegar sehingga terjadi
keseimbangan hidrostatik (bentuk hampir bulat). Umumnya diterapkan pada
benda-benda yang memiliki massa lebih dari 5.1020 kg dan diameter
lebih dari 800 km.
c. Memiliki orbit yang tidak memotong
orbit planet lain.
2. Planet kerdil (istilah Planet Minor
tidak dipakai lagi) adalah benda langit yang:
a. Mengelilingi matahari
b. Memiliki massa yang cukup besar untuk
menghasilkan gaya gravitasi sendiri, berwujud benda tegar yang bentuknya
mendekati bulat
c. Orbitnya memotong orbit benda tata
surya yang lain
d. Bukan satelit dari sebuah planet
Contoh: Pluto, Sedna,
Ceres, Xena, dan Objek Sabuk Kuiper lainnya
3. Benda kecil di Tata surya adalah
objek-objek lain kecuali satelit dan satelit buatan yang mengelilingi matahari
Contoh: Komet, Asteroid, Obyek Dekan
Bumi (NEO = Near Earth Objects), Obyek Dekat Mars (NMO = Near Mars Objects),
Object Dekat Yupiter (NJO = Near Jupiter Objects), Trans-Neptunian, Trojan
Asteroid
Resolusi 6A: Pluto adalah planet kerdil dan anggota kelompok baru yang
disebut Trans Neptunian Objects.
Berdasarkan definisi daiatas, kesimpulan akhir diambil lewat voting
dengan hasil;
Pluto bukan Planet ke-9 dari tata Surya, tetapi adalah planet kerdil.
Penjelasan resolusi planet Pluto
I. Perubahan definisi Pluto tidak lagi
sebagai planet adalah karena Pluto tidak memenuhi criteria resolusi no 5A,
pasal 1c, yaitu orbit Pluto yang memotong orbit planet Neptunus
II. Mengapa bari saat ini dibahas dan
menunggu 76 tahun setelah Pluto ditemukan oleh Clyde Tombaugh pada tahun 1930?
Karena saat itu belum dapat
ditentukan dengan teliti besar jari-jari dan massa Pluto dan belum pula
ditemukan objek-objek lain yang serupa Pluto pada jarak yang sama atau lebih
jauh darinya
Secara sederhana dapat disimpulkan, planet adalah benda langit dengan
sifat sebagai berikut:
·
Orbit
mengelilingi matahari
·
Massa
lebih besar dari 1020 kg, berbentuk bulat
·
Diameter
lebih besar dari 800 km
·
Orbit
tidak berpotongan
Hal-hal yang pokok untuk mengingat Pluto terutama orde
besaran yang patut diperhatikan sebagai sebuah benda Sabuk Kuiper yang paling
dekat ke matahari. Pertama mengenai jarak rata-rata Pluto dari matahari 39,53
SA. Jarak terjauh 50,30 SA dan terdekat 29,65 SA. Orbit planet yang lonjong itu
membawa planet pada jarak terdekat 4,4 milyar kilometer dari matahari dan pada
jarak terjauh 7,3 milyar kilometer.
Pluto memiliki eksentrisitas sebesar 0,25 dan
kemiringan orbit 17,150, Pluto memotong orbit Neptunus. Bidang
ekuator Pluto sangat miring terhadap bidang orbitnya yakni 122,520,
dengan kata lain planet itu sumbunya hampir rebah di ekliptika sambil berotasi
dengan 6,39 hari dan berevolusi 248,54 tahun. Massanya yang kecil 1,29 x 1022
kg dengan ukuran garis tengah 2320 km mudah melepaskan sebuah pesawat ataupun
atom yang bisa bergerak 4392 km/jam. Percepatan gravitasi 0,4 m/s2
membuat benda seberat 100 kg di bumi hanya 4 kg di Pluto. Suhu -2290K
dan tekanan atmosfernya nol. Atmosfer Pluto dalam keadaan “collapse” alias
membeku dipermukaan. Atmosfer jika menguap terdiri atas methan, sedang nitrogen
kemungkinan dijumpai dalam keadaan beku. Kecepatan angin belum dapat dijangkau
teknologi masa kini.
Penemuan Eris meyakinkan bahwa planet-planet
kerdil lainnya pun akan datang. Jika Bumi dapat menampung 159 buah Pluto, dan
sebuah planet ke-X sebesar Yovian yang dapat menampung 100 atau 1000 buah bumi
ditengarai sebagai penyebab gangguan gerak Neptunus dicari-cari dan tidak
pernah ditemukan, maka dapat dipastikan kumpulan benda-benda semacam Pluto
adalah jawabannya. Diperlukan beratus ribu benda-benda semacam Pluto untuk
menggantikan satu planet X. Kenyataan kemudian memperlihatkan bahwa hanya
berdasarkan hukum gravitasi saja, orang akan menemukan bahwa tatanan
benda-benda kecil semacam Pluto lah yang dipilih dalam proses pembentukan
sebuah system keplanetan, dan bukan perwujudan sebuah planet X. Hal ini dikarenakan
di dalam sekwen kelahiran alamiah sebuah system keplanetan yang gravitatif
tatanan yang mewujud sebagai Sabuk Kuiper lah yang dijumpai terbentuk sebagai
hasil sisa sebuah proses kondensasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar